MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM— Yayasan Butta Porea Indonesia menerima penghargaan sebagai Mitra Kerja yang telah berkontribusi dan bekerja sama dalam membantu pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian acara Tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 yang berlangsung di Kantor Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan, Jl. Sultan Alauddin No. 92 Makassar.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas peran aktif yayasan dalam membangun kolaborasi produktif bersama Lapas Kelas I Makassar, khususnya dalam program pembinaan berbasis ketahanan pangan dan lingkungan.
Yayasan Butta Porea Indonesia diinisiasi oleh sejumlah tokoh lokal dengan dukungan Fadly Padi Reborn yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Wali Kota Makassar. Yayasan ini diketuai oleh Andi Pangerang, sementara Fadly Padi Reborn berperan sebagai Ketua Dewan Pembina. Dalam operasionalnya, yayasan mengelola dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan untuk dikembangkan menjadi program-program terarah, terukur, dan tepat sasaran, khususnya di bidang urban farming dan pelestarian lingkungan.
Kolaborasi dengan Lapas Kelas I Makassar diwujudkan melalui program Integrated Urban Farming yang dikembangkan di Kebun Asimilasi dan Edukasi. Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan di dalam Lapas, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan dan kemandirian bagi warga binaan. Melalui kegiatan ini, warga binaan dilibatkan secara aktif dalam proses produksi pangan, sehingga mampu membangun pola pikir produktif dan berkelanjutan.
Selain itu, program ini juga berkembang ke sektor pengelolaan lingkungan melalui penerapan konsep Zero Waste dan Environmental Hygiene. Dalam program Zero Waste, dilakukan pemilahan sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya. Sampah plastik dimanfaatkan secara maksimal melalui berbagai kegiatan daur ulang yang melibatkan warga binaan, sementara sampah organik khususnya sisa makanan diolah melalui budidaya maggot sebagai solusi efektif dalam mengurangi limbah sekaligus menghasilkan nilai tambah senin 27/4/2026
Sementara itu, program Environmental Hygiene diterapkan melalui penggunaan Eco Enzyme yang diproduksi secara mandiri di dalam Lapas. Cairan hasil fermentasi limbah organik ini digunakan sebagai pembersih alami dengan cara disemprotkan pada area dapur bersih, kamar mandi (WC), serta saluran air di lingkungan Lapas. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga binaan dalam menjaga kesehatan dan kebersihan secara kolektif.
Melalui berbagai program tersebut, Yayasan Butta Porea Indonesia bersama Lapas Kelas I Makassar berupaya menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih, sehat, dan produktif. Harapannya, Lapas Kelas I Makassar dapat menjadi percontohan sebagai lapas yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga sebagai pusat edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berbasis keberlanjutan.
Penghargaan ini diharapkan menjadi momentum untuk terus memperkuat kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan berbagai pihak, sehingga mampu menghadirkan inovasi yang berdampak nyata, baik bagi warga binaan maupun bagi lingkungan secara luas.(**)










