MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM– Kesadaran mengenai pentingnya regenerasi petani muda kini tidak lagi terbatas pada wilayah pedesaan. Di kota-kota besar seperti Makassar, kesadaran itu mulai tumbuh melalui gerakan Urban Farming dan Gerakan Tanami Tanata’ yang diinisiasi oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Urban Farming menjadi wajah baru pertanian di Makassar. Pertanian perkotaan ini bukan sekadar aktivitas menanam di lahan sempit, tetapi sebuah gerakan kolektif membangun ketahanan pangan tingkat kota melalui pola tanam vertikal, pemanfaatan pekarangan, teknologi hidroponik, hingga budidaya organik berbasis lingkungan.
Inisiatif Tanami Tanata’ yang dicanangkan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menjadi motor penggerak yang memperkuat gerakan pertanian kota. Tanami Tanata’ adalah strategi ekologis yang menggerakkan warga, komunitas, sekolah, dan lorong-lorong kota untuk menjadikan ruang hidup mereka sebagai ruang produksi pangan.
Gerakan ini menjawab karakter generasi muda yang menurut Survei Kolaborasi, lebih dari 58,3% ingin menjadi pengusaha atau pebisnis, dan 88% Gen Z–Milenial tertarik pada pengembangan diri. Urban Farming memberi jembatan antara minat berwirausaha dan peluang pertanian modern, membuka ruang agripreneurship baru di kota: budidaya sayur organik, pemasaran melalui e-commerce, bisnis nutrisi tanaman, hingga kuliner berbasis urban crop.
Di tangan generasi muda Makassar, Tanami Tanata’ menjadi wadah kreativitas: mereka mengelola kebun lorong, merawat vertical garden, membuat pot hidroponik dari barang bekas, bahkan mendirikan mini laboratorium tanaman di sekolah dan kampus.
Meski demikian, tantangan tetap hadir. Stigma bahwa pertanian adalah pekerjaan berat dan kurang bergengsi masih melekat. Terbatasnya lahan, akses modal, dan teknologi modern juga menjadi hambatan. Namun, melalui Urban Farming dan Tanami Tanata’, hambatan ini mulai terurai. Pertanian di kota tidak memerlukan lahan luas, teknologi bisa diakses dengan biaya terjangkau, dan wirausaha agribisnis semakin mudah melalui platform digital.
Makassar menunjukkan bahwa pertanian dapat tampil sebagai gaya hidup baru—green lifestyle yang modern, kreatif, dan berorientasi masa depan.
Dengan pendekatan holistik—menggabungkan keterampilan teknis tanaman, kewirausahaan, literasi digital, dan pengembangan diri—Makassar berpotensi melahirkan generasi petani kota yang inovatif. Mereka bukan hanya menanam, tetapi membangun model agribisnis baru yang berkelanjutan dan adaptif.
Pada akhirnya, masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh bagaimana desa bergerak, tetapi juga bagaimana kota-kota besar seperti Makassar memulai revolusi kecil melalui gerakan tanam urban. Urban Farming dan Tanami Tanata’ adalah langkah konkret menjadikan pertanian sebagai gaya hidup modern, jalur karier kreatif, dan peluang ekonomi baru bagi generasi muda.(**)













