MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM–Potret di tengah keterbatasan sistem pengelolaan sampah formal, seorang warga bernama Darwin di Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala, Makassar, berinovasi dengan merakit instalasi sederhana berbasis drum besi untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.
Darwin menjelaskan pada senin 19/1/2026 memanfaatkan oli bekas sebagai sumber panas untuk memanaskan plastik-plastik yang selama ini berakhir di selokan dan sungai. Plastik mengalami degradasi termal dan melepaskan uap hidrokarbon yang dialirkan melalui pipa pendingin rakitan, lalu mengembun menjadi cairan menyerupai minyak, sementara residu padat tertinggal di dalam drum.
Inovasi ini mencerminkan logika bertahan warga kota yang berupaya mengurangi sampah yang mencemari lingkungan. Namun, eksperimen ini juga membuka pertanyaan serius terkait risiko asap berbahaya dan senyawa toksik yang dihasilkan dari pemanasan plastik tanpa teknologi pengendali emisi.
Kisah Darwin di Tompobalang menjadi potret ketimpangan tata kelola limbah perkotaan. Kreativitas warga menunjukkan daya lenting masyarakat, tetapi sekaligus menegaskan tanggung jawab negara menghadirkan teknologi yang aman, kebijakan yang adil, dan sistem pengelolaan limbah yang melindungi kesehatan publik serta lingkungan hidup.
Di sudut kecil Bontoala, masa depan sedang diraba—pelan, berisiko, namun jujur oleh warga yang bekerja di ruang kosong kebijakan.(**)













