MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM– Tepat setahun pemerintahan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika memimpin Kota Makassar. Di tengah tantangan efisiensi anggaran dan dinamika pertumbuhan kota, inovasi dan entrepreneurial government menjadi kunci untuk menjaga ritme pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan warga.
Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Fadli Noor dari Dayadata Network dalam analisisnya pada jumat (20/2/2026)
Fadli menyoroti bahwa kepemimpinan Walikota Appi, yang berlatar belakang sebagai entrepreneur dan aktor korporasi, diuji dalam menghadapi kebijakan Inpres Nomor 1/2025 yang berdampak pada penerimaan anggaran Pemkot Makassar. Kemampuan manajerial, entrepreneurial, dan inovasi pemerintahan sangat dibutuhkan agar pembangunan tetap berjalan dan bermuara pada kesejahteraan warga.
Makassar memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun tantangan utamanya adalah memastikan pertumbuhan tersebut mewujud menjadi kesejahteraan yang dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Birokrasi harus mampu merespons perubahan cepat dengan menghubungkan data, kebijakan, aktor, dan kepentingan yang tersebar di dalam ekosistem kota.
Fadli juga menyoroti beberapa data Kota Makassar tahun 2025, seperti inflasi yang meningkat, struktur pengeluaran rumah tangga yang didominasi kebutuhan makanan, penurunan angka kemiskinan yang dibarengi dengan kenaikan garis kemiskinan, serta dominasi sektor jasa dalam penyerapan tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan kesejahteraan Kota Makassar bersifat lintas sektor dan saling terkait, sehingga membutuhkan pendekatan kebijakan yang tidak terfragmentasi.
Pemkot Makassar perlu membangun jejaring pasokan jangka panjang antara pemerintah kota, daerah penghasil pangan, distributor, UMKM, dan komunitas konsumen, sehingga stabilitas harga menjadi hasil dari sistem yang lebih resilien dan bukan sekadar dari intervensi temporer.
Fadli menekankan bahwa keberhasilan masa depan kota tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar anggaran pembangunan atau seberapa banyak program yang diluncurkan, melainkan oleh kualitas kepemimpinan dalam mengelola hubungan, membangun(**)










