MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM– BPJS Kesehatan Kantor Cabang Makassar bersama Puskesmas Tamangapa melaksanakan kegiatan Pemantauan Gizi di Madrasah Ibtidaiyah Tahfidz Mush’ab Bin Umair sebagai sekolah penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemantauan ini mengacu pada kurva WHO untuk mengetahui kondisi gizi siswa, mulai dari underweight, normal, hingga overweight dan obesitas.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar, dr. Prabowo, M.Kes, AAK, menyampaikan bahwa skrining kesehatan ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sekaligus menjadi salah satu fokus percepatan (quick win) bagi peserta MBG.
“Skrining kesehatan ini merupakan upaya promotif dan preventif sebagai salah satu manfaat pada Program JKN. Bahkan khusus untuk penerima MBG, ini menjadi salah satu quick win Direksi BPJS Kesehatan saat ini sebagai bentuk komitmen dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan,” jelas Prabowo.
Dokter Umum Puskesmas Tamangapa, dr. Arianti Razak, menambahkan bahwa kolaborasi bersama BPJS Kesehatan memberikan kemudahan dalam proses pemantauan karena tenaga kesehatan dapat langsung memperoleh data yang akurat di lapangan sekaligus melakukan evaluasi kondisi kesehatan siswa.
“Dengan kolaborasi ini, kami dari pihak Puskesmas merasa sangat terbantu karena dapat langsung memantau status kesehatan gizi dari siswa-siswa yang ada di wilayah kerja kami,” ujar Arianti pada Sabtu (20/05).
Ia menegaskan bahwa setiap temuan di lapangan akan segera ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan program gizi di Puskesmas serta dilaporkan kepada Dinas Kesehatan agar siswa yang membutuhkan penanganan dapat segera memperoleh intervensi yang tepat.
“Jika ada yang kami dapatkan gizinya kurang, akan dikoordinasikan dengan Program Gizi yang ada di Puskesmas, dan akan dilaporkan oleh Dinas Kesehatan untuk mendapatkan penanganan,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Madrasah, Arkil, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi pihak sekolah dalam memantau kondisi kesehatan siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari aspek gizi tetapi juga perkembangan fisik dan emosional.
“Kegiatan ini dibutuhkan untuk mengukur tingkat kesehatan bukan hanya dari sisi gizi, tapi juga bisa mengukur perkembangan tubuh secara langsung, baik dari tinggi badan, emosional, hingga tumbuh kembangnya tiap tahun,” ungkap Arkil.
Menurutnya, hasil pemantauan tersebut dapat menjadi acuan bagi sekolah untuk memastikan bahwa setiap siswa mengalami pertumbuhan yang optimal sesuai dengan usianya.
“Melalui pemantauan ini, kami dapat menilai apakah siswa mengalami perkembangan tubuh yang sesuai dari tahun ke tahun,” lanjutnya.
Sebagai penutup, Arkil berharap kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemantauan, tetapi juga dapat dilengkapi dengan edukasi praktis bagi siswa agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga tidak hanya sekadar peninjauan, tetapi juga mencakup penyuluhan yang bersifat praktik seperti tata cara cuci tangan dan sikat gigi agar anak-anak bisa melihat langsung dan menerapkannya,” tutupnya. (AL/mr)








