MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Dalam esai terbarunya berjudul “Penjahat, Alam, dan Negara yang Dikeruk dari Dalam,” pegiat sosial dan pemerhati isu ekologi serta kewargaan, Mashud Azikin, mengkritisi eksploitasi sumber daya alam dan praktik-praktik ekstraktif di Indonesia yang menggerus lingkungan hidup sekaligus sendi keadilan sosial.
Azikin mengutip pernyataan Nelson Mandela bahwa “Penjahat itu tidak pernah membangun negara.
Ia memperkaya diri sambil merusak negara,” dan mengaitkannya dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana wilayah yang paling kaya sumber daya sering kali menjadi wilayah yang paling miskin secara sosial dan paling rusak secara ekologis.
Azikin di salah satu warkop pada rabu 24/12/2025 menyoroti bagaimana negara sering kali hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai pemberi izin eksploitasi sumber daya alam, yang kerap meninggalkan lubang raksasa, air tercemar, konflik agraria, serta hilangnya ruang hidup masyarakat adat dan pesisir.
Azikin juga menekankan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan krisis kemanusiaan yang berdampak pada masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam. Ia juga mengingatkan bahaya normalisasi kejahatan ekstraktif, di mana perusakan lingkungan dianggap sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari pembangunan.
Azikin menyerukan keberanian untuk mendefinisikan ulang pembangunan bukan sebagai percepatan ekstraksi, melainkan sebagai upaya merawat keberlanjutan. Negara harus berpihak pada kelestarian, keadilan ekologis, dan hak generasi mendatang. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi hanyalah cerita pendek dengan akhir yang mahal.
Azikin mengingatkan bahwa negara yang membiarkan alamnya dirusak demi keuntungan jangka pendek sesungguhnya sedang menggali lubang bagi masa depannya sendiri, dan harga yang harus dibayar oleh generasi berikutnya jauh lebih mahal daripada keuntungan yang dirayakan hari ini.(*)








