MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Dalam tulisan terbarunya yang berjudul “Berat yang Kita Pikul Bersama,” Mashud Azikin mengajak bangsa Indonesia untuk merefleksikan diri di tengah berbagai bencana yang melanda negeri ini.
Paparan ini menjadi cermin kolektif tentang beban berlapis yang sedang dipikul bangsa: bencana alam, luka sosial, dan kegamangan menghadapi masa depan.
Azikin menggambarkan bagaimana tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, gempa, dan angin ekstrem datang silih berganti, menghadirkan penderitaan yang menjadi rutinitas visual di media. Ia mempertanyakan apakah bencana ini sekadar takdir geografis, atau cermin dari relasi yang rapuh dengan alam dan sesama.
Menurut Azikin pada tulisannya 4/1/2026, berat yang dialami bangsa tidak otomatis membuatnya kuat. Ia baru menjadi kekuatan jika diolah menjadi kesadaran. Bencana seharusnya bukan hanya melahirkan solidaritas sesaat, tetapi juga keberanian untuk bercermin tentang tata ruang yang abai, eksploitasi alam yang berlebihan, dan kebijakan yang sering kalah cepat dari kepentingan jangka pendek.
Azikin juga menyoroti dua wajah Indonesia yang muncul saat bencana: yang saling membantu tanpa bertanya asal-usul, dan yang saling menyalahkan tanpa mau bertanggung jawab. Namun, ia meyakini bahwa Indonesia kerap menemukan kekuatannya justru ketika keadaan memberat, dengan lahirnya gotong royong yang tulus dan empati lintas batas.
Meski demikian, Azikin menekankan bahwa menerima berat bukan berarti berdamai dengan kelalaian. Ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengendurkan tanggung jawab negara. Kekuatan yang lahir dari penderitaan rakyat seharusnya menjadi alarm moral bagi pengambil kebijakan untuk menata ulang hubungan dengan alam, membangun sistem mitigasi bencana, dan mewujudkan keadilan dalam pemulihan.
Azikin menyimpulkan bahwa Indonesia akan menjadi lebih kuat jika belajar, berbenah, dan saling menopang ketika bencana datang. Jika berat ini kelak membuat bangsa lebih bijak, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab, maka kalimat “tak mengapa keadaan memberat” akan menemukan maknanya yang paling dalam.(**)
Penulis: Mashud Azikin








