MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM– Mashud Azikin, seorang pemerhati lingkungan dan penggerak komunitas pengelolaan sampah serta eco-enzyme di Kota Makassar, menuliskan opini yang menggugah mengenai relevansi Isra Mi’raj dengan krisis iklim dan pentingnya dakwah hijau di mimbar masjid
Dalam opininya di salah satu warkop jumat 17/1/2026, Mashud mengajak untuk membaca ulang kisah Isra Mi’raj bukan hanya sebagai peristiwa spiritual, melainkan sebagai peringatan ekologis. Ia menekankan bahwa sebelum Nabi naik ke langit, ia singgah di bumi, di Masjidil Aqsa, yang merupakan simbol tanah, sejarah, dan lanskap ekologis. Hal ini menunjukkan bahwa iman tidak pernah tercerabut dari ruang hidup dan hubungan dengan Tuhan selalu berkelindan dengan tanggung jawab menjaga bumi.
Mashud menyoroti ironi bahwa kerusakan lingkungan terjadi di tengah masyarakat yang rajin beribadah, dan menekankan bahwa iman yang tidak berbuah etika ekologis adalah iman yang rapuh. Ia mengajak umat Islam untuk menurunkan iman ke ranah praksis, menjadikan masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat edukasi lingkungan, serta menjadikan sedekah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk memulihkan alam.
Lebih lanjut, Mashud mengangkat pertanyaan dari Syamsuddin Simmau mengenai mengapa dakwah hijau jarang terdengar di masjid. Ia menjelaskan bahwa masjid sejak awal sejarah Islam tidak hanya berfungsi sebagai ruang ritual, melainkan juga pusat pembentukan kesadaran sosial dan moral. Namun, ajaran Islam tentang lingkungan sangat kuat, tetapi gema dakwahnya di mimbar justru lemah.
Mashud mengajak ulama dan khatib untuk mengintegrasikan pesan ekologi dalam khutbah dan ceramah, mengaitkan ayat dan hadis dengan realitas lingkungan lokal yang dihadapi jamaah. Ia juga mengajak masjid untuk menjadi contoh praktik ramah lingkungan, seperti pengelolaan sampah, penghematan energi dan air, serta program penanaman pohon di sekitar masjid.
Mashud Azikin berharap, dengan menghadirkan dakwah hijau secara sadar dan terstruktur, jamaah akan menyadari bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan rangkaian ketaatan kepada Tuhan, sehingga dapat tumbuh gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan membuka ruang kolaborasi antara masjid, komunitas warga, dan pemangku kebijakan.(**)












