MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera di penghujung tahun 2025 menjadi refleksi bagi Indonesia tentang pentingnya menjaga alam.
Muhammad Idris Leo, TGUPP Pemprov Sulsel 2021-2023 dan Ketua Forum Komunikasi Perencana Wilayah Kota (FK-PWK) Sulsel, menuliskan opini berjudul “Integrasi Spasial dan Spritual Manjaga Alam Indonesia” sebagai catatan akhir tahun bencana.
Dalam tulisannya Sabtu (26/12/2025) Idris Leo menekankan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia selama 30 tahun terakhir disebabkan oleh perpaduan antara faktor alam (cuaca ekstrem) dan ulah manusia (antropogenik) yang merusak lingkungan, serta aspek pemanfaatan ruang (tata ruang) yang belum optimal.
Idris Leo menguraikan tiga faktor utama penyebab banjir dan longsor, yaitu:
1. Cuaca Ekstrem: Perubahan iklim global memicu siklon tropis dan meningkatkan intensitas serta durasi hujan.
2. Kerusakan Lingkungan di Hulu: Deforestasi, eksploitasi lahan, alih fungsi lahan, dan penebangan liar menyebabkan lereng menjadi curam, kualitas tanah rapuh, serta sungai-sungai menjadi dangkal.
3. Problem Ruang di Hilir: Alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukannya, berdirinya bangunan di bantaran sungai, minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH), sistem drainase yang buruk, dan ekstraksi air tanah berakibat pada penurunan permukaan tanah.
Idris Leo menawarkan solusi dengan pengendalian spasial dan spiritual:
1. Pengendalian Spasial: Memperkuat pengawasan dan menerapkan secara tegas penggunaan lahan sesuai regulasi tata ruang, memperketat penerbitan izin baru, mengevaluasi izin yang ada, memaksimalkan fungsi Feasibility Studi (FS) dan AMDAL, serta mengoptimalkan Rekomendasi Teknis (Rekomtek) tata ruang.
2. Pengendalian Spritual: Menjaga alam dan berdamai dengan lingkungan agar terhindar dari kutukan semesta dan kemurkaan Tuhan. Idris Leo mengajak lembaga keagamaan dan para pemuka agama untuk memberikan pencerahan dan penyadaran dalam melestarikan alam kepada masyarakat.
Idris Leo mencontohkan kearifan lokal Suku Kajang di Bulukumba Sulawesi Selatan sebagai “penjaga hutan terbaik di dunia” yang mampu mengendalikan masyarakatnya dalam melestarikan lingkungan dengan aturan adat yang sangat ketat.
Idris Leo berharap di tahun 2026, Indonesia lebih bersahabat dengan alam dan terhindar dari bencana.(**)








