MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Di dalam kompleks Lapas Kelas I Makassar, sebuah inisiatif baru sedang mengubah wajah pengelolaan lingkungan dan pembinaan Warga Binaan. Lewat pelatihan pembuatan eco enzyme yang digagas Yayasan Butta Porea Indonesia bersama berbagai mitra komunitas, limbah organik yang selama ini dianggap beban kini berubah menjadi sumber daya berharga.
Kegiatan yang diadakan pada Senin (20/4) ini bukan hanya sekadar pelatihan teknis, melainkan juga upaya untuk memberikan bekal keterampilan dan menanamkan kesadaran ekologis bagi para Warga Binaan. Dipimpin langsung oleh Andi Fadly Arifuddin (Fadly Padi), Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Butta Porea Indonesia, kegiatan ini juga melibatkan Ketua Yayasan Andi Pangerang Nur Akbar, Komunitas Manggala Tanpa Sekat (diwakili Mashud Azikin), dan tim Klik Hijau.
Dalam satu hari kegiatan, para peserta berhasil memproduksi sekitar 100 liter eco enzyme dari sisa buah dan sayuran. Cairan hasil fermentasi ini kemudian langsung dimanfaatkan untuk penyemprotan area hunian, saluran air, dan fasilitas umum di lapas sebagai upaya meningkatkan standar kebersihan lingkungan.
Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, menyambut baik langkah ini. “Ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah bekal keterampilan yang bisa mereka bawa ketika kembali ke masyarakat,” ucapnya. Senin kemarin (20/4/2026)
Menurutnya, pendekatan seperti ini tidak hanya berdampak pada kebersihan fisik, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam pembinaan yang lebih bermakna.
Perwakilan Yayasan Butta Porea Indonesia menjelaskan bahwa eco enzyme bukan hanya teknologi sederhana, tetapi juga pintu masuk perubahan perilaku. “Ketika seseorang mulai memilah dan mengolah sampahnya sendiri, di situ terjadi perubahan cara berpikir. Dari yang sebelumnya membuang, menjadi bertanggung jawab,” jelasnya.
Selain mengatasi masalah pengelolaan sampah organik dan meningkatkan sanitasi, kegiatan produktif ini juga memberikan dampak psikologis positif. Para Warga Binaan mendapatkan rasa memiliki, tanggung jawab, dan harapan bahwa mereka sedang mempersiapkan diri untuk kembali sebagai individu yang lebih berdaya.
Yayasan Butta Porea Indonesia berharap model program eco enzyme ini dapat direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Dengan demikian, dampak positif tidak hanya dirasakan di satu lapas saja, tetapi juga dapat berkontribusi pada penyelesaian masalah krisis sampah dan pembangunan masyarakat yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.(**)













