MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas hingga Kalimantan dan Maluku mulai terasa di Kota Makassar. Kualitas udara memburuk dalam beberapa hari terakhir, bahkan sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Berdasarkan data BMKG, tingkat konsentrasi partikel halus (PM2.5) di Kota Makassar tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik, masuk dalam kategori tidak sehat.
PM2.5 adalah partikel berukuran sangat kecil, kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer sekitar 30 kali lebih halus dari sehelai rambut manusia yang dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan dan aliran darah.
Kondisi ini berpotensi memicu iritasi tenggorokan, batuk, pilek, serta peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, telah menginstruksikan langkah pengendalian dampak pencemaran udara, khususnya perlindungan kesehatan masyarakat dan kelancaran aktivitas pendidikan. Dinas Kesehatan Kota Makassar bersama jajaran puskesmas diminta meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan terhadap potensi lonjakan kasus ISPA.
Di sisi lain, kondisi di lapangan menunjukkan belum semua sekolah merespons dengan cepat.
Di lingkungan SMP Negeri 24 Makassar, sejumlah siswa terlihat berjalan pulang sekolah tanpa menggunakan masker di tengah kualitas udara yang buruk, sekaligus terpapar debu dari proyek perbaikan drainase di Jalan Baji Gau.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala SMPN 24 Makassar belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Makassar bersama Kepala Dinas Pendidikan, Achi Soleman, langsung meninjau SMP Negeri 6 Makassar untuk membagikan masker kepada para siswa sebagai langkah antisipasi.
Beberapa anggota DPRD Kota Makassar juga turut menghimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan senantiasa menggunakan masker saat berada di luar rumah.(**)








