JAKARTA, LINKSATUSULSEL.COM– Pemerintah pusat terus mengkaji aspek hukum bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kemenko Polkam untuk merumuskan solusi permanen pasca insiden penertiban bendera dan peristiwa penembakan di wilayah Pidie, Aceh. “Kita berharap semoga masalah ini segera tercapai jalan keluar sehingga tercipta kedamaian yang berkelanjutan di Aceh,” ujar Yusril Ihza Mahendra.
Berdasarkan keterangan tertulis Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad) yang diterima Kamis (5/11), sebelumnya aparat TNI dan Polri telah mengedepankan langkah persuasif serta mediasi kepada panitia penyelenggara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW agar tidak mengibarkan Bendera Bulan Bintang. Namun upaya itu tidak mencapai kesepakatan.
Di lokasi Desa Pulo Keunari, Rabu (4/11), situasi memanas. Massa dilaporkan melempar batu dan kayu ke arah personel, serta sebagian membawa senjata tajam. Aparat sempat membubarkan massa dengan peralatan pengendalian huru‑hara. Karena tindakan massa dinilai terus mengancam keselamatan, petugas melepaskan tembakan peringatan munisi hampa dilanjutkan munisi karet. Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera demi menjaga keutuhan NKRI.
Peristiwa itu menimbulkan 14 korban warga sipil: satu orang meninggal dunia dan 13 orang luka‑luka. Korban meninggal adalah Abzalul Riza (21), warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Jenazahnya telah dimakamkan keluarga pada Kamis (5/11) pukul 01.00 WIB. Selain itu, enam personel TNI juga mengalami luka‑luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
TNI AD menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya warga tersebut, serta terus berkoordinasi dengan instansi terkait memantau situasi. Pihak militer menegaskan akan tetap mengedepankan komunikasi sosial dan mediasi, serta bekerja sama dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat sesuai ketentuan hukum.
Sebelumnya, aparat juga melakukan langkah antisipasi terhadap rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Melalui patroli dan komunikasi sosial, lokasi kegiatan berhasil dipindahkan dari Desa Udeung Poroh ke Makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo.(**)
Sumber (Infopublik)





