MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM–Selama bertahun‑tahun, pengelolaan sampah di banyak kota termasuk Makassar masih berjalan dengan pola linear ambil‑produksi‑konsumsi‑lalu buang.
Pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk mengangkut limbah ke tempat pembuangan akhir (TPA), padahal banyak sisa organik dari pasar tradisional sesungguhnya masih bisa dimanfaatkan kembali.
Sisa sayuran, kulit buah, dan bahan pangan yang tidak terjual kerap bercampur sampah plastik, lalu membusuk dan menghasilkan gas metana.
Kita justru membayar berkali‑kali saat memproduksi barang, saat mengangkutnya sebagai sampah, dan saat menanggung dampak pencemaran yang muncul.
Salah satu alternatif yang mulai dibicarakan adalah ecoenzyme, cairan hasil fermentasi bahan organik segar, gula atau molase, dan air dengan perbandingan 1:3:10 selama sekitar tiga bulan.
Teknologi ini tidak memerlukan peralatan rumit, bisa dimulai dari rumah tangga, sekolah, hingga kelompok pasar. Namun para pengamat mengingatkan, ecoenzyme bukan obat segala persoalan sampah.
“Jangan mengira semua limbah organik langsung jadi ecoenzyme, dan jangan percaya klaim yang belum diuji laboratorium,” ujar Mashud Azikin Sabtu (31/10/2026)
salah satu pemerhati lingkungan. Ia menjelaskan prioritas utama tetap mengurangi timbulan sampah sejak awal, bukan hanya mengolah sisa‑sisa yang sudah ada.
Sambung, Pemerhati lingkungang memberkan gerakan ini tidak berhenti jadi kegiatan seremonial, ada empat hal penting yang harus dibangun: pemilahan konsisten di sumber, standarisasi proses produksi, izin dan pengujian keamanan produk, serta kepastian pasar. Selain itu, kelompok yang berhadapan langsung dengan sampah seperti pemulung, kelompok perempuan, dan pelaku UMKM harus dilibatkan sebagai pelaku, bukan sekadar penerima bantuan,” sambung dia
Di Makassar, potensi limbah organik dari pasar tradisional, rumah makan, hotel, dan kawasan permukiman cukup besar. Jika diatur dengan regulasi, infrastruktur, dan pendampingan yang tepat, pengelolaan berbasis ekonomi sirkular bisa membuka lapangan kerja baru sekaligus menekan beban TPA.
“Keberhasilan tidak diukur dari berapa liter ecoenzyme yang diproduksi, tapi berapa kilogram sampah organik yang berhasil dialihkan dari TPA, berapa biaya pengelolaan yang dihemat, dan berapa banyak warga yang mendapat pendapatan,” tegas pemerhati itu.
Ia berharap ke depannya kota tidak lagi hanya sibuk memindahkan gunungan sampah, tapi mencegah sumber daya berubah jadi limbah sejak awal.(**)
Penulis (Mashud Asikin)
Editor (Moko)




