MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Kabid Kemahasiswaan dan Kepemudaan PW SEMMI Sulawesi Selatan, Idam, menegaskan energi merupakan satu kesatuan sistem yang menghubungkan sumber daya, teknologi, infrastruktur, distribusi, ekonomi, lingkungan, hingga kebutuhan masyarakat. Gangguan pada satu bagian dapat berimbas ke bagian lainnya.
“Energi adalah rantai. BBM tidak berhenti pada produksi atau impor. Ada pengadaan, penyimpanan, transportasi, distribusi, hingga konsumsi. LPG tidak sekadar jumlah tabung, ada subsidi, penyaluran, pengawasan. Listrik pun bukan hanya soal pembangkit, melainkan transmisi, distribusi, cadangan daya, investasi,” ujar Idam senin 28/9/2026
Karena itu, kinerja energi harus dinilai secara keseluruhan. Pendekatan reaktif tidak cukup; setiap gangguan harus menjadi bahan perbaikan desain sistem ke depan.
Sulawesi Selatan sebagai pusat ekonomi kawasan timur menuntut efisiensi distribusi energi yang tinggi. Rantai pasokan yang panjang dan kompleks menuntut pengelolaan kapasitas, biaya, penyimpanan, serta permintaan secara terintegrasi. Kekurangan BBM belum tentu soal alokasi bisa jadi ketidakefisienan sistem dari sumber hingga konsumen akhir.
Terkait LPG, Idam menegaskan subsidi bukan sekadar soal volume, melainkan ketepatan sasaran, distribusi wilayah, harga aktual, akses masyarakat, dan efektivitas pengawasan. Tujuannya: energi tersedia adil, efisien, dan sesuai tujuan kebijakan.
Selaras Renstra ESDM 2025–2029 dan arahan Bappenas 2026, Sulsel tidak boleh sekadar menjadi pengguna energi. Diperlukan perencanaan terintegrasi pertumbuhan industri, digitalisasi, UMKM, transportasi, dan rumah tangga harus diantisipasi lewat infrastruktur dan teknologi yang memadai.
“Setiap gangguan jadi data, setiap data jadi analisis, setiap analisis menghasilkan perbaikan sistem. Jika sasaran tak tercapai, evaluasi menyeluruh bukan sekadar menambah output,” tegasnya.
Pasokan memang penting, tetapi tidak cukup. Infrastruktur, distribusi, ketepatan subsidi, teknologi, investasi, dan perencanaan jangka panjang harus berjalan beriringan. Sistem yang tidak efisien membebani ekonomi; yang tidak andal menurunkan produktivitas; yang tidak berkelanjutan merugikan generasi mendatang.
“Energi adalah infrastruktur peradaban, bukan sekadar komoditas dikonsumsi. Kami mendorong pemerintah, Pertamina, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan membangun tata kelola berbasis data, teknologi, efisiensi, dan pandangan jangka panjang,” pungkas Idam.
Tujuannya tunggal: memastikan energi yang tersedia benar-benar berubah menjadi manfaat ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat Sulawesi Selatan.(**)








