MAKASSAR, LINKSATUSULSEL.COM – Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) I Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (DPW Asprindo) Sulawesi Selatan menjadi momentum strategis memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah guna mengoptimalkan potensi ekonomi daerah. Mengusung tema “Kolaborasi dan Sinergi Ekonomi Daerah Bersama Pemerintah untuk Memaksimalkan Potensi Lokal Sulsel Guna Membantu Pemenuhan Pasar Lokal”, pertemuan ini menegaskan keinginan pengusaha pribumi menjadi pemain utama dalam membangun kedaulatan ekonomi daerah.
Wakil Sekretaris I DPW Asprindo Sulsel, Muhammad Askar, SKM, menyampaikan bahwa pengusaha Sulsel tidak lagi ingin berada di pinggir lapangan, melainkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengisi rantai pasok domestik. “Kita harus menjadi pemain utama dalam rantai pasok sekaligus mitra strategis pemerintah membangun kedaulatan ekonomi daerah,” ujarnya rabu 5/8/2026
Pemenuhan Pasar Lokal Menjadi Prioritas
Sulawesi Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam dan kapasitas produksi besar—beras, jagung, kakao, kopi, produk perikanan, hingga olahan dan manufaktur. Namun masih banyak kebutuhan pokok dan bahan baku yang didatangkan dari luar daerah. Hal ini menunjukkan potensi lokal belum sepenuhnya terserap pasar daerah.
Persoalan ini menyangkut tidak hanya kapasitas produksi, tetapi juga rantai distribusi yang panjang, konsistensi kualitas, standar produk, serta belum optimalnya konektivitas antara produsen dengan pembeli institusional seperti pemerintah, BUMN, dan perusahaan besar. Oleh karena itu, pemenuhan pasar lokal harus menjadi tujuan utama: bukan sekadar memproduksi tanpa kepastian pasar, melainkan menciptakan sistem produksi berbasis kebutuhan yang terukur agar perputaran ekonomi tetap di daerah, lapangan kerja terbuka, dan ketahanan ekonomi tumbuh berkelanjutan.
Kolaborasi Harus Konkret, Bukan Sekadar Seremonial
Kolaborasi pemerintah dan dunia usaha tidak boleh berhenti pada nota kesepahaman atau kegiatan seremonial. Harus diwujudkan dalam program nyata dengan indikator keberhasilan jelas. Langkah penting antara lain:
– Integrasi data kebutuhan pasar: Pemerintah menyediakan data proyeksi kebutuhan komoditas strategis secara transparan dan berkala, sementara Asprindo berperan mengumpulkan data kapasitas produksi anggotanya agar kebutuhan dan kemampuan produksi bertemu tepat sasaran.
– Standardisasi dan sertifikasi produk: Sinergi diarahkan pada pendampingan dan fasilitasi sertifikasi—halal, BPOM, SNI, dan lainnya—agar produk lokal mampu bersaing di pasar formal.
– Pengadaan pemerintah dan BUMN yang berpihak pada produk lokal: Membuka ruang lebih besar bagi UMKM dan koperasi lokal bukan sekadar proteksi, melainkan membangun basis produksi domestik yang kuat agar mampu bersaing secara nasional maupun global.
– Akses pembiayaan berbasis rantai pasok: Perbankan dan lembaga pembiayaan diharapkan mengembangkan skema pembiayaan bagi pelaku usaha yang telah memiliki kontrak pengadaan.
Asprindo Dikembangkan Menjadi Ekosistem Bisnis
DPW Asprindo Sulsel didorong berkembang menjadi ekosistem bisnis yang aktif mempertemukan pelaku usaha dengan pasar, antara lain melalui:
– Pusat Penjodohan Bisnis Digital yang mempertemukan anggota dengan pembeli dari instansi pemerintah, ritel modern, dan industri pengolahan;
– Inkubator produk dan kemasan untuk meningkatkan kualitas, menciptakan produk turunan, memperbaiki kemasan, serta uji pasar;
– Penguatan advokasi kebijakan berbasis data agar aspirasi dunia usaha disampaikan dengan dasar fakta lapangan;
– Jaringan distribusi terintegrasi melalui koperasi dan logistik bersama untuk mengurangi ketergantungan pada distributor luar daerah.
Sinergi Tetap Menjaga Independensi dan Keberlanjutan
Kolaborasi harus dibangun atas dasar transparansi, akuntabilitas, dan meritokrasi—bukan kedekatan personal atau kepentingan politik. Program kerja sama harus memiliki kerangka berkelanjutan agar tidak berhenti saat terjadi pergantian kepemimpinan. Keberhasilan diukur dari indikator nyata: peningkatan transaksi produk lokal, jumlah pelaku usaha tersertifikasi, lapangan kerja baru, serta meningkatnya kontribusi sektor usaha terhadap perekonomian daerah.
Awal Gerakan Ekonomi Kerakyatan
Muhammad Askar menegaskan, kekuatan ekonomi daerah tidak diukur dari seberapa banyak produk dari luar, melainkan dari seberapa kuat daerah memenuhi kebutuhannya sendiri. Kolaborasi bukan sekadar meminta bantuan, melainkan membangun kemitraan yang saling menguatkan.
“Pengusaha pribumi Sulsel memiliki sejarah panjang ketangguhan. Saatnya energi kolektif diarahkan menjadikan Sulsel wilayah mandiri, sejahtera, bermartabat melalui penguatan pasar lokal. Kedaulatan ekonomi tidak diimpor. Ia dibangun dari sinergi yang jujur, kolaborasi yang produktif, dan komitmen tak tergoyahkan memuliakan potensi negeri sendiri,” pungkasnya.(**)







